Langsung ke konten utama

Cara Tahu Dia Jodohmu atau Bukan

Ada banyak orang terutama perempuan yang sering bertanya kepadaku, "bagaimana sih caranya tahu kalau kita jodoh sama dia?"

Ah..kalau mau jawab pertanyaan ini mungkin agak sedikit panjang. Aku akan menjawabnya berdasar dari pengalamanku, berdasar dari apa yang pernah aku lakukan.

Mungkin jawabanku ini tidak akan banyak relate sama cerita orang lain tentang bagaimana mereka yakin untuk mengikat janji suci dengan pasangannya, sekali lagi aku katakan ini subjektif, ini dari pengalamanku pribadi.

Punya banyak pengalaman buruk tentang relasi pasangan dimasa lalu, buatku akhirnya berpikir tentang bagaimana hidupku kedepannya dan hal itu juga yang buat aku tidak punya keinginan untuk menikah. HIdup menua di panti jompo tidak apa-apa, kan? Setiap orang punya pilihan untuk menentukan hidupnya, bukan? Kalau orang-orang bermimpi  hidup bahagia dengan pasangannya, ya itu hanya impianku dimasa lalu yang sudah aku kubur dalam-dalam.

Haha..sembari tertawa getir kukatakan hal itu padaku diriku sendiri. Menikah disunnahkan bagi yang mampu, kalau aku merasa tidak mampu, mengapa harus memaksakan diri?

Begitulah realitanya, mentalku sudah terlalu hancur bahkan untuk memikirkan kata pernikahan saja sudah sangat membuatku lelah.

Tapi..tapi..anehnya sekarang aku bisa dengan lantang mengatakan bahwa aku bahagia dengan pasanganku, dengan pernikahanku yang baru berjalan 1 tahun lebih. Ternyata aku juga tetap butuh pasangan atau bahkan mungkin justru sangat butuh untuk menopang kembali mentalku agar lebih kuat, agar sembuh dari kerapuhan.

Tidak ada lagi laki-laki yang bisa aku percaya di dunia ini bahwa dia tidak akan menyakitiku, syukur-syukur bisa membuatku bahagia. Tapi ternyata ada!!!

He's even exist!!! Tidak mudah menemukannya dan memang harus dicari. Sudah bertemu pun, tetap harus dipastikan bahwa memang dialah orangnya. Sewaktu baru kenal 3 minggu dengan suamiku dulu, aku ajak dia diskusi karena tidak ingin buang waktu lama-lama mengenal laki-laki yang tidak pasti punya keinginan untuk menjadikanku seorang istri.

Beberapa tahun lalu bahkan sebelum kenal dengan suami, aku rajin mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benakku, pertanyaan yang menurutku bare minimum ditanyakan pada calon pasangan sebelum memutuskan untuk menikah.

"Kelak, siapapun laki-laki itu, akan aku ajak untuk bicara serius mengenai sejauh mana kami siap untuk berumahtangga," kataku saat  itu.

Mungkin bagi sebagian orang agak aneh membicarakan hal ini sebelum menikah tapi sekali lagi ku katakan, ini bare minimum buatku. Mungkin juga agak canggung ketika mulai mendiskusikannya tapi percayalah, setelah melakukannya akan jadi hal yang sangat membantu untuk membuat keputusan.

Here we are, let's go!


Mental, Emosional, dan Nilai Hidup

1. Apa tujuan hidup terbesar kamu?

2. Apa arti pernikahan menurut kamu?

3. Apa definisi bahagia menurut kamu?

4. Bagaimana cara kamu mengatasi stres?

5. Hal apa yang paling bikin kamu semangat dalam hidup?

6. Apa hal yang paling bikin kamu kecewa atau marah?

7. Bagaimana kamu menenangkan diri saat sedang emosi?

8. Apa prinsip hidup yang paling kamu pegang?

9. Apa yang paling kamu takuti dalam hidup?

10. Bagaimana kamu menghadapi kegagalan?

11. Sedekat apa kamu dengan alkohol, narkoba, dan bokep?

12. Apakah kamu pernah bermain aplikasi MiCh*t, Tantan, Tinder, dsb?


Hubungan & Komitmen

13. Apa arti komitmen buat kamu?

14. Menurut kamu, apa kunci pernikahan langgeng?

15. Bagaimana cara kamu menunjukkan rasa sayang?

16. Apa ekspektasi kamu terhadap pasangan?

17. Bagaimana kamu menanggapi perbedaan pendapat dengan pasangan?

18. Seberapa penting komunikasi dalam hubungan menurut kamu?

19. Bagaimana cara kamu meminta maaf dan memaafkan?

20. Apa yang kamu lakukan kalau merasa tidak dihargai?

21. Bagaimana menurut kamu pembagian peran dalam rumah tangga?

22. Bagaimana cara kamu menjaga keintiman setelah menikah?


Agama, Spiritual, dan Nilai Moral

23. Bagaimana kamu menjalani ibadah sehari-hari?

24. Apa pandangan kamu tentang perbedaan mazhab atau praktik ibadah?

25. Seberapa penting nilai agama dalam mendidik anak?

26. Bagaimana kamu menghadapi perbedaan keyakinan dengan orang lain?

27. Apa pandangan kamu tentang sedekah dan berbagi rezeki?

Apakah istri wajib berjilbab? Bagaimana pandanganmu tentang hal ini?


Keluarga & Lingkungan Sosial

28. Bagaimana hubungan kamu dengan orang tua?

29. Seberapa penting restu orang tua buat kamu?

30. Apa ekspektasi kamu terhadap hubungan dengan mertua?

31. Seberapa sering kamu ingin mengunjungi keluarga setelah menikah?

32. Bagaimana pandangan kamu tentang tinggal serumah dengan orang tua?

33. Bagaimana sikap kamu terhadap keluarga besar yang suka ikut campur?

34. Apakah kamu ingin punya anak? Kalau iya, berapa?

35. Kalau nanti ternyata sulit punya anak, bagaimana sikap kamu?

36. Bagaimana pola asuh anak yang menurut kamu ideal?

37. Apa pandangan kamu tentang berbagi peran dalam mengasuh anak?


Pekerjaan, Karier & Waktu

38. Seberapa penting karier bagi kamu?

39. Apakah kamu setuju kalau pasangan bekerja setelah menikah?

40. Bagaimana kamu menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga?

41. Apa pendapat kamu tentang lembur atau kerja sampai larut malam?

42. Kalau harus pindah karena pekerjaan, bagaimana menurut kamu?


Keuangan & Gaya Hidup

43. Apa pandangan kamu tentang mengatur keuangan rumah tangga?

44. Apakah kamu setuju dengan konsep tabungan bersama?

45. Bagaimana kamu melihat utang dalam rumah tangga?

46. Apa prioritas finansial terbesar kamu?

47. Bagaimana kebiasaan kamu dalam mengelola uang (hemat atau boros)?

48. Apa pendapat kamu tentang investasi?

49. Apakah kamu terbuka kalau pasangan punya penghasilan lebih besar?

50. Apa pandangan kamu tentang berbagi tugas finansial antara suami istri?

51. Bagaimana gaya hidup yang ingin kamu jalani setelah menikah?

52. Kalau ada masalah keuangan besar, apa yang akan kamu lakukan?

53. Jika keuangan minus, kamu lebih memilih berhutang pada teman, keluarga, atau pinjol, atau cari penghasilan tambahan?

54. Maukah kamu berbelanja kebutuhan dapur/rumah ke pasar/minimarket?


Kehidupan Sehari-hari & Rumah Tangga

55. Bagaimana kamu membayangkan kehidupan sehari-hari setelah menikah?

56. Seberapa penting kebersihan rumah bagi kamu?

57. Bagaimana pembagian pekerjaan rumah menurutmu?

58. Apa kebiasaan sehari-hari kamu yang menurutmu perlu dimengerti pasangan?

59. Bagaimana cara kamu menghabiskan waktu luang?

60. Seberapa penting liburan buat kamu?

61. Apa pendapat kamu tentang punya hewan peliharaan di rumah?


Parenting & Anak

62. Maukah/inginkah kamu punya anak? Mengapa?

63. Apa persiapanmu untuk punya anak?

64. Bagaimana gaya parenting anak nantinya?

65. Bagaimana kesiapan tentang menjadi orangtua?

66. Bagaimana jika tidak diberi rezeki memiliki anak?

67. Siapkah begadang menjaga anak bayi?

68. Apakah kamu tahu apa itu baby blues?

69. Siapkah menerima perubahan bentuk badan istri setelah melahirkan?

70. Apakah kamu tahu istri cenderung lebih sering stress setelah punya anak?


Lumayan banyak dan cukup panjang, bukan? Apakah membacanya saja sudah cukup melelahkan? Hehehe, waktu itu kami pun tidak sempat menghabiskan semua pertanyaan, tapi semua pertanyaan yang kami ambil cukup mewakili sebagian besar apa yang aku butuhkan untuk membuatku yakin.

Jadi cara mainnya seperti ini, aku tulis semua pertanyaan di kertas lalu aku gunting dan gulung, lalu taruh di wadah. Nanti sisa bergiliran aja ngambil satu gulungan secara random kemudian dibacakan, lalu bergantian menjawabnya antara kamu dan pasangan. Mudah, bukan?

Tapi siap-siap ya kalau jawaban dia tidak sesuai yang kamu harapkan, bisa jadi itu pertanda kamu gak cocok sama dia.

Sebenarnya aku hanya ingin memastikan langsung dia masuk kategori calon suami idaman menurutku atau tidak? Aku hanya ingin memastikan dia bukan laki-laki kasar, bukan laki-laki yang gaya bicaranya sedikit-sedikit keluar isi kebun binatang, bukan laki-laki yang senang menggertak hanya untuk memenangkan egonya.

Alhamdulillah selama setahun menikah ternyata benar aku bertemu dengan laki-laki yang tepat.


Happy we are!


✅Lemah lembut dalam bertutur kata dan penyayang

✅Tidak malu atau gengsi untuk belanja bahan dapur ke pasar sendirian (kalau aku sedang tidak bisa)

✅Tidak menganggap aku sebagai pembantu tapi sebagai partner

✅Dia tau aku keras kepala, jadi pendekatan atau metode yang dia gunakan adalah memberitahuku dengan sangat lembut dan tidak memaksa

✅Selalu mengusahakan yang terbaik buatku

✅Bukan tipikal laki-laki numpang alias mokondos.

✅Selalu bertanggungjawab penuh untuk mencukupi kebutuhanku

✅Selalu memberikan pelukan setiap hari


Ini kalau di list tidak akan ada habisnya, sih. Hehe.


Jadi...Aku bahagia sekali menjalani rumahtangga dengan laki-laki pilihanku. Semoga saja kamu yang baca ini juga bisa menemukan laki-laki idamanmu. Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Tentang Irfan

Aku baru saja menonton sebuah video youtube yang judulnya "Mapan Dulu atau Nikah Dulu?". Si empunya channel, Ferry Irwandi bilang kalau "mending mapan dulu kemudian nikah daripada ngajak anak orang hidup susah, masa iya perempuan yang sudah dibesarkan dan dibiayai setengah mati sama orangtuanya diajak hidup susah sama kita?", begitu kata Ferry. Lantas dia bilang lagi sama pacarnya sebelum dia nikahi waktu itu "kalau nanti kita hidup susah, tinggalkan saya!" dan si pacar yang sekarang sudah jadi istri menjawab "iya!", that's how they being wife and husband. Tahun ini aku berencana menikah dengan seorang laki-laki yang belum genap 5 bulan kutemui. Kami bertemu pertama kali tepat Februari lalu. Awalnya aku hanya ingin mencari teman dan kenalan baru karena sudah lelah dengan percintaanku yang begitu rumit hampir 5 tahun belakangan. Dua kali menjalin hubungan dengan laki-laki yang tidak tepat untukku membuatku terkadang berpikir untuk ingin berist...

Merayakan Diri Sendiri

Ternyata keputusanku untuk menjadi Ibu Rumah Tangga udah tepat banget menurutku karena memang aku lagi butuh ruang untuk sendiri dan butuh untuk mengenal diri aku lebih dalam lagi. Sepertinya aku pernah berdoa begini waktu merasa sangat kehilangan diri sendiri, merasa ga tau aku itu siapa dan setelah mengalami guncangan hidup yang begitu hebat. "Ya Allah, kasi aku kesempatan dong untuk kenal sama diri aku" Boom! Dikabulin lagi. Kadang doa kita itu terjawab melalui hal-hal yang memang gak kita sangka sebelumnya. Kita juga kadang gak sadar kalau doa kita itu udah terjawab, malah biasanya di awal kita malah mengeluh "kok gini, sih?" Padahal itu semua adalah proses yang buat kita mau capai tujuan awal. Ga semua orang kuat dengan prosesnya, akan ada stress, burn out, bahkan pengen angkat bendera putih saking kerasnya proses menuju tujuan itu. Berproses~ Tapi ada dititik ini aku bersyukur banget dan mau merayakan diri sendiri atas proses panjang yang aku jalani. Melalui s...