Aku baru saja menonton sebuah video youtube yang judulnya "Mapan Dulu atau Nikah Dulu?". Si empunya channel, Ferry Irwandi bilang kalau "mending mapan dulu kemudian nikah daripada ngajak anak orang hidup susah, masa iya perempuan yang sudah dibesarkan dan dibiayai setengah mati sama orangtuanya diajak hidup susah sama kita?", begitu kata Ferry. Lantas dia bilang lagi sama pacarnya sebelum dia nikahi waktu itu "kalau nanti kita hidup susah, tinggalkan saya!" dan si pacar yang sekarang sudah jadi istri menjawab "iya!", that's how they being wife and husband.
Tahun ini aku berencana menikah dengan seorang laki-laki yang belum genap 5 bulan kutemui. Kami bertemu pertama kali tepat Februari lalu. Awalnya aku hanya ingin mencari teman dan kenalan baru karena sudah lelah dengan percintaanku yang begitu rumit hampir 5 tahun belakangan. Dua kali menjalin hubungan dengan laki-laki yang tidak tepat untukku membuatku terkadang berpikir untuk ingin beristirahat dulu memiliki pasangan.
![]() |
| Me and him |
Tapi dilain sisi aku juga "dikejar" untuk segera menikah berhubung tahun ini usiaku akan menginjak 30 tahun. Oh, iya sejak umur 24 aku ibu sudah mewanti-wanti agar aku segera menikah. Namun menemukan pasangan yang tepat dan sekufu itu tidak mudah, bukan? Tapi, tapi, bagaimana bisa aku memutuskan akan menikah denga laki-laki yang belum genap 5 bulan kukenal?
Zaman sekarang sudah banyak perempuan yang aware dengan kriteria-kriteria pasangan yang pantas untuk dijadikan pendamping hidup. Aku rasa, pun denganku. Sejak masih bersekolah, aku menetapkan kriteria-kriteria tersebut. Meski sempat menjalin hubungan toxic namun itulah yang membuatku semakin mengerti laki-laki seperti apa yang kuinginkan menjadi partner hidupku. Berbekal ilmu-ilmu itu, aku merangkum puluhan pertanyaan untuk pasanganku kelak agar aku bisa tahu kami bisa hidup bersama atau tidak.
Namanya Irfan, setelah bertemu dengan dia dan jalan beberapa kali, hari itu aku memutuskan membawa pertanyaan-pertanyaan itu untuk didiskusikan, menulisnya dikertas-kertas kecil dan menggulungnya seperti akan melakukan undian arisan. Sengaja tak memberitahukannya biar jadi kejutan seru pada pertemuan kami kala itu. Aku melakukan ini agar cepat tahu apakah aku bisa terus melanjutkan komunikasi dengannya atau harus segera berhenti. Aku tidak mau lagi membuang-buang waktu untuk orang yang tidak serius denganku.
Jujur saja, sejak umur 24 tahun ibu ingin aku segera menikah, membuatku lelah dengan hal itu. Aku bahkan sempat ada pada fase tak percaya ada pernikahan bisa memberikan kebahagiaan. Marriage is bullshit. Hari itu aku dan Irfan jalan bersama lagi, kalau tidak salah ingat sehabis makan kami bersantai di Anjungan Pantasi Losari. Disanalah kami menghabiskan malam dengan diskusi yang panjang selama hampir 3 jam. Total 50 lebih pertanyaan pun tak sampai habis kami "mainkan".
" Tadaaaa! Aku membawa sesuatu yang seru untuk kita mainkan malam ini," begitu kataku.
"Rules-nya adalah aku mengambil satu gulungan kertas dan memberikannya padamu, kamu membacanya dan aku yang menjawab pertanyaan terlebih dahulu. Begitu seterusnya," lanjutku.
Aku lupa tepatnya pertanyaan apa yang perama kali "terpilih" saat itu. Ada banyak sekali pertanyaan-pertanyaan. Semisal "apa visi-misimu ketika ingin menikah?", "inginkah kamu punya anak?", "apa bekalmu menjadi orangtua?", "wajibkah anak menafkahi orangtua?". Kami juga membahas tentang finansial setelah pernikahan, parenting, goal setelah menikah, dan lainnya.
Akhirnya malam itu aku tahu bahwa aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku begitu yakin dia bisa menjadi partner hidup yang baik untukku. Pun dia, dia bilang pertanyaan-pertanyaan itu adalah ide yang bagus untuk saling mengenal dengan pasangan. Setelah itu juga dia yakin ingin menikah denganku. Dua bulan berkenalan, dia memasangkan cincin dijari manisku sebagai simbol pertunangan kami, berangkat ke kampung halamanku, bertemu orangtua dan saudara-saudara kandungku untuk menyampaikan keseriusannya menikahiku. Dia meminta waktu sampai akhir tahun ini. Tentu saja aku bersyukur akan hal itu.
![]() |
| We date:) |
Setelah banyak kepahitan yang kualami dalam hidupku, aku akhirnya merasa bahwa inilah waktuku untuk bahagia. Tapi tentu saja tak berakhir disitu saja. Kami, lebih tepatnya Irfan masih harus berjuang keras untuk bisa memenuhi syarat dari orangtuaku. Kami orang Sulawesi, budaya "uang panaik" maish begitu kental. Dia harus memenuhi syarat itu hanya dalam waktu beberapa bulan. Aku yang tidak berada diposisinya jadi sangat kasihan. Ya, itu memang syarat yang perlu dipenuhinya namun aku tidak begitu tahu sepenat apa dia menjalani hari-harinya untuk memikirkan hal tersebut.
Darimana dia mendapat uang, bagaimana dia menyanggupi, bagaimana dia mencukupi. Aku bahkan tidak bisa mengetahui semua apa yang dia rasakan, mungkinkah dia memendamnya sendiri? Tapi dibalik itu semua kami berdua yakin bisa menikah tahun ini entah bagaimanapun caranya.
Semoga kamu selalu sehat, dimurahkan rezekimu, dilancarkan urusanmu, sehingga kita berdua bisa segera menikah, tinggal seatap, dan memulai hidup baru bahkan sebelum batas waktu yang kita berdua targetkan. Aamiin.
Lain kali aku akan bercerita bagaimana romatisnya dia menjadi seorang laki-laki, bagaimana ia menjagaku dengan baik, bagaimana ia selalu berusaha membuatku bahagia dengan cinta yang ia miliki. :)


Komentar
Posting Komentar